Orbit NTB - Lugas, Tegas dan Akurat
✦ Sudut Pandang

MENJELANG PILKADES MIDANG : JANGAN BIARKAN DEMOKRASI BERHENTI PADA PEREBUTAN KEKUASAAN

P

Pebrian Asrul Ali

Aliansi Pemuda Desa Midang

30 Aug 2026 3 menit baca 39 dibaca
MENJELANG PILKADES MIDANG : JANGAN BIARKAN DEMOKRASI BERHENTI PADA PEREBUTAN KEKUASAAN — Sudut Pandang | Orbit NTB

Menjelang pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak tahun 2026, ini merupakan pesta demokrasi 8 tahunan yang berada di tingkat desa yang dinanti-nanti oleh seluruh masyarakat di desa, terlebih khusus masyarakat di desa Midang kecamatan Gunungsari kabupaten Lombok Barat menantikan wajah dan gaya kepemimpinan baru untuk membawa perubahan dan arah kebijakan yang segar untuk desa Midang tentunya.

Masyarakat secara antusiasme sangat tinggi dalam memantau siapa putra-putri desa Midang terbaik yang akan mencalonkan diri menjadi kepala desa untuk periode selanjutnya dan tentu banyak spekulasi dan opini dikalangan masyarakat luas desa Midang beberapa bakal calon yang di anggap memiliki power dukungan paling kuat. Hal ini tentu merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Banyak pilihan tentu saja. Perbedaan pilihan nantinya jelas ada. Tetapi yang perlu di perhatikan oleh masyarakat desa midang adalah "Jangan sampai pilkades kali ini hanya menjadi ajang perebutan kekuasaan".

Menang kalah dalam pertarungan sudah menjadi hal biasa. Karenanya Pilkades merupakan momentum bagi masyarakat untuk lebih bijak dan selektif dalam memilih kepala desa, karena masyarakat lah yang menjadi penentu arah masa depan desa yang nantinya akan dilaksanakan oleh kepala desa terpilih. Oleh karena itu bakal calon-bakal calon kepala desa juga harus memiliki gagasan-gagasan berupa program-program kerja desa nantinya, integritas, dan keberpihakan kepada masyarakat, sehingga masyarakat nantinya bisa dan tahu akan memilih pemimpin yang kompeten, bukan lagi memilih pemimpin yang hanya mementingkan pertarungan gengsi dan kepentingan pribadi semata.

Kita hidup di zaman ketika informasi begitu mudah didapat. Anak muda hari ini bisa melihat bagaimana desa desa lain berkembang, bagaimana pelayanan publik dibangun, bagaimana teknologi dimanfaatkan, dan bagaimana anak muda dilibatkan dalam pembangunan.

Maka agak aneh jika dalam memilih kepala desa kita masih berhenti pada pertanyaan Dia keluarga siapa ? Dia dekat dengan siapa?. Justru Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Apa gagasannya? Apa kemampuannya? Apa rekam jejaknya? Dan apa yang benar-benar akan dia lakukan untuk desa?

Jangan memilih hanya karena hubungan darah, pertemanan, tekanan kelompok, atau pemberian sesaat. Karena yang kita pilih bukan sekadar seseorang untuk menjadi kepala desa, tetapi seseorang yang akan menentukan kebijakan dan mengelola kepentingan masyarakat.

Dalam setiap pemilihan persaingan adalah sesuatu yang wajar. Setiap calon memiliki visi, program, dan pendukung masing masing. Yang menjadi masalah adalah ketika persaingan berubah menjadi permusuhan. Jangan sampai perbedaan pilihan membuat masyarakat terpecah. Jangan sampai hubungan keluarga, tetangga, dan persaudaraan rusak hanya karena berbeda pilihan politik. Pilkades seharusnya menjadi ruang untuk memilih pemimpin terbaik, bukan arena untuk saling menjatuhkan. Seorang calon kepala desa juga perlu memahami bahwa jabatan kepala desa bukan hadiah atas kemenangan. Jabatan tersebut adalah amanah. Setelah terpilih ia bukan lagi kepala kelompok pendukungnya, melainkan kepala seluruh masyarakat desa.

Sebagai pemuda, kami perlu berani melihat Pilkades bukan hanya sebagai pesta demokrasi semata saja, akan tetapi sebagai momentum untuk menguji kualitas kesadaran politik masyarakat. Jangan sampai demokrasi desa hanya ramai ketika masa kampanye, tetapi sunyi ketika masyarakat membutuhkan pelayanan, transparansi, dan keberpihakan.

Kita tentu membutuhkan pemimpin yang dekat dengan masyarakat. Namun dekat bukan berarti sekedar sering terlihat di tengah warga. Pemimpin yang benar benar dekat adalah mereka yang mau mendengar keluhan masyarakat, memahami persoalan anak muda, petani, pelaku UMKM, perempuan, dan kelompok rentan, lalu menjadikannya sebagai dasar kebijakan.

Karena itu, Pilkades Midang perlu didorong menjadi adu konsep bukan hanya sekedar perebutan kekuasan. Perbedaan pilihan politik adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi setelah pemilihan selesai, yang dibutuhkan masyarakat adalah program nyata. Calon yang berkompetisi seharusnya berlomba menawarkan gagasan terbaik untuk pendidikan, ekonomi, kreativitas, dan pemberdayaan pemuda. Dengan begitu, kemenangan dalam Pilkades bukan hanya tentang memenangkan suara, tetapi tentang memenangkan kepercayaan melalui gagasan yang mampu membawa Desa Midang menuju masa depan yang lebih baik.

P

Tentang Penulis

Pebrian Asrul Ali

Aliansi Pemuda Desa Midang

Artikel sudut pandang Orbit NTB — menyajikan gagasan berdasarkan fakta, etika, dan kepentingan publik.

Bagikan Tulisan