Orbit NTB - Lugas, Tegas dan Akurat
Ekonomi

Petani Kopi Sambik Elen Didorong Tingkatkan Nilai Jual Melalui Pengolahan Pascapanen

Oleh Redaksi 23 Sep 2026 12:47 WITA 3 menit baca 43 dibaca
Foto: Petani kopi di Desa Sambik Elen, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.

Foto: Petani kopi di Desa Sambik Elen, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.

LOMBOK UTARA, OrbitNTB.com – Potensi kopi di Desa Sambik Elen, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, terus didorong agar tidak berhenti pada penjualan hasil panen mentah. Kelompok Tani Tunas Senange Duta mulai mengembangkan pengolahan pascapanen dan diversifikasi produk untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi petani.

Program pemberdayaan tersebut dilaksanakan pada Juni hingga September 2026 dengan melibatkan 25 anggota Kelompok Tani Tunas Senange Duta. Kegiatan dilakukan melalui pendekatan partisipatif berbasis praktik langsung atau learning by doing, mulai dari persiapan, penyuluhan, pelatihan, pendampingan hingga evaluasi berkala.

Sebelum program berjalan, petani masih menghadapi sejumlah persoalan dalam pengelolaan kopi. Pengolahan pascapanen sebagian besar dilakukan secara tradisional, sementara produk yang dihasilkan masih terbatas pada gabah kering dan green beans dengan kualitas asalan.

Kondisi tersebut membuat petani memiliki posisi tawar yang relatif lemah. Kopi umumnya disimpan dalam bentuk gabah kering dan baru dijual ketika petani membutuhkan uang, sehingga harga jual yang diperoleh cenderung rendah.

Persoalan lainnya adalah keterbatasan akses jalan untuk mengangkut hasil panen keluar desa, minimnya dukungan pemerintah maupun program CSR, serta belum optimalnya kelembagaan lokal dalam membantu penguatan kapasitas petani dan perluasan pasar.

Melalui program tersebut, petani mulai diarahkan untuk mengubah pola usaha dari sekadar menjual komoditas mentah menjadi menghasilkan produk kopi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Petani dilatih menghasilkan green beans berkualitas melalui sejumlah metode pengolahan, sekaligus memproduksi roasted beans yang berorientasi pada kebutuhan pasar. Hasilnya, produk yang sebelumnya hanya berupa gabah kering dan green beans kualitas asalan mulai berkembang menjadi green beans berkualitas tinggi atau grade super serta roasted beans.

Tidak hanya berfokus pada produk, program ini juga memperkenalkan teknologi tepat guna dalam proses pascapanen. Petani mendapatkan pelatihan mengenai teknik sortasi dan perambangan, pengolahan dengan metode natural, semi-wash dan full-wash, penggunaan solar dryer dome untuk pengeringan, hingga pengoperasian mesin roasting skala kecil.

Penerapan teknologi tersebut diharapkan membantu meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga konsistensi kualitas kopi. Dalam proses roasting, misalnya, penggunaan mesin dengan kontrol suhu memungkinkan tingkat kematangan dan mutu cita rasa lebih terukur dibandingkan pengolahan secara tradisional.

Dari sisi keterlibatan petani, program tersebut mencatat partisipasi aktif mencapai 90 persen selama pelatihan dan praktik produksi. Capaian itu menjadi salah satu indikator peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan pascapanen kopi.

Program diversifikasi ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi kopi di tingkat petani. Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa penerapan diversifikasi produk kopi dapat meningkatkan nilai jual produk berkisar 20–30 persen. Namun, angka tersebut merupakan temuan yang dirujuk dalam kajian dan bukan hasil pengukuran peningkatan pendapatan secara khusus pada Kelompok Tani Tunas Senange Duta.

Ke depan, penguatan pengelolaan kopi di Sambik Elen masih membutuhkan keberlanjutan, terutama dalam aspek kelembagaan, pemasaran dan akses pasar. Kajian tersebut menyebutkan peluang pengembangan koperasi serta perluasan strategi pemasaran digital sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat posisi petani dalam rantai perdagangan kopi.

Dengan pengembangan pascapanen dan diversifikasi produk, kopi Sambik Elen tidak hanya diposisikan sebagai hasil perkebunan yang dijual dalam bentuk mentah, tetapi mulai diarahkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. (Redaksi Orbit NTB).

Komentar Pembaca 0

💬

Belum ada komentar. Jadilah pembaca pertama yang meninggalkan tanggapan!

Bagikan Tanggapanmu